Nyaho adalah nyanyian yang berisikan pantun-pantun atau mantera-mantera yang di nyanyikan pada saat-saat tertentu seperti pada saat upacara adat. Nyaho berfungsi sebagai permintaan berupa puji-pujian kepada leluhur atau nenek moyang.
A. Sejarah dan Perkambangan Nyaho
Nyaho mulai dipergunakan atau dikenal oleh masyarakat kerinci pada awal masuknya agama Hindu ke kerinci, yaitu sekitar abad ke-4. Dahulu, nyaho dipergunakan oleh masyarakat kerinci dalam banyak hal seperti, pada saat upacara adat,
ritual penyembuhan penyakit yang telah lama di derita oleh seseorang, meminta lamat atau meminta rezeki, makai salih serta meminta keturunan. Dalam perkambangannya, nyaho mengalami beberapa perubahan fungsi seperti, saat sekarang nyanyian nyaho digunakan untuk hiburan yang dipadukan dengan tarian yang kita kenal dengan tarian “Rentak Kudo” dan “tari Niti Naik Mahligai”. Sekarang, nyaho sudah jarang dilakukan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun dibeberapa daerah tertentu kita masih dapat menemui nyaho. Nyaho dilakukan oleh banyak wanita dan pria.
ritual penyembuhan penyakit yang telah lama di derita oleh seseorang, meminta lamat atau meminta rezeki, makai salih serta meminta keturunan. Dalam perkambangannya, nyaho mengalami beberapa perubahan fungsi seperti, saat sekarang nyanyian nyaho digunakan untuk hiburan yang dipadukan dengan tarian yang kita kenal dengan tarian “Rentak Kudo” dan “tari Niti Naik Mahligai”. Sekarang, nyaho sudah jarang dilakukan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun dibeberapa daerah tertentu kita masih dapat menemui nyaho. Nyaho dilakukan oleh banyak wanita dan pria.
Jenis Alat Musik yang Digunakan dalam Nyah, terdiri dari:
1. Gong : Terbuat dari lempengan-lempengan logam.
2. Dap : Sejenis gendang yang terbuat dari kayu yang di kedua penampangnya sama besar.
3. Seruling.
B. Tahap-tahap pelaksanaan nyaho
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini para wanita menyiapkan berbagai macam alat-alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses nyaho, seperti :
- Berbagai macam bunga yang diikat menjadi satu ikatan. Diantara bunga tersebut, ada bungan yang wajib diikutsertakan yaitu bunga “Aut” (kayu yang di raut halus menjadi bentuk bunga).
- Kain panjang untuk pembungkus mangkuk yang akan berisi pemberian dari roh nenek moyang.
- Berbagai macam jenis makanan seperti, lemang, jadah, dan berbagai buah-buahan.
- Kemenyan.
2. Tahap pelaksanaan
- Pada tahap pelaksanaan, nyaho biasanya dilaksanakan pada malam hari sekitar pukul 22.00 wib sampai 03.00 wib. Nyaho dilakukan satu minggu tujuh hari tujuh malam. Apabila nyaho diperuntukkan untuk meminta keturunan, maka nyaho dilakukan di rumah orang yang bersangkutan. Namun, jika nyaho diperuntukkan untuk meminta rezeki yang diminta oleh banyak orang, maka nyaho dilaksakan di sebuah rumah yang dinamakan “Rumah Gedang”.
- Pada pelaksanaan ini dipimpin oleh pawang yang akan membacakan mantera dan menghidupkan api kemenyan yang dalam cerita asap dari api kemenyan tersebutlah yang akan diikuti oleh roh nenek moyang hingga roh tersebut datang ketempat pelaksanaan nyaho.
- Untuk permulaan nyaho ini seorang pria dan wanita akan berdiri untuk berbalas pantun yang berisikan sindiran untuk orang yang duduk agar mereka berdiri
- Saat itu, seseorang akan menyanyikan lirik nyaho sambil menari membuat lingkaran.
- Bagi orang-orang tertentu yang dapat melihat hal-hal gaib, mereka dapat melihat sebutir padi satu per satu terbang dan langsung berada di tangan seorang pria. Tengannya akan bergetar, lalu seorang wanita akan menyalin butiran padi tersebut kedalam sebuah mangkuk yang kemudian dibungkus dengan sehelai kain panjang. Bungkusan tersebut tidak boleh langsung dibuka karena menurut cerita, apabila bungkusan tersebut dibuka isinya akan hilang dan hanya dapat dibuka keesokan harinya. Biasanya mangkuk tersebut barisi sebuah batu cincin dengan bermacam warna.
- Jika pada saat pelaksanaan nyaho akan ada penonton atau orang yang duduk kerasukkan roh nenek moyang. Apabila ada sesaji yang tinggal maka orang yang kemasukan tersebut akan memberitahukannya (pemberitahuan tersebut benar adanya).
- Malam berikutnya kekerungan-kerungan tersebut akan dilengkapi.
- Pada malam ketujuh nyaho dilakukan dihalaman rumah gedang.
- Untuk mengobati orang yang kemasukan,orang yang kemasukan tersebut akan diberikan percikan air cinano dengan menggunakan bunga disertai mantera.
- Pada saat akan diakhirinya nyaho maka akan dinyanyikan lirik “ Badan empuk badanlah payah…” dan nyaho berhenti dan makanan yang digunakan sebagai sesajian dimakan bersama dan diberikan kepada orang pintar dan para penonton.
C. Syair Nyaho
Sejak mano mulai bukain
Sejak bukain ito tigo ito
Sejak mano mulai bumain
Sejak bumi mulo ado
Sejak bumi mulo jadi
Bajejak dinapa putih
Jagolah guru salih putih
Salih putih indu ka bumi
Indu ka bumi mulo ado
Indu ka bumi mulo jadi
Belum jugo senang di situ
Mintak dibukak kunci guru
Minta di bukak kunci tuan
Baleteh kunci mamakan
Baderau antai ka tengah
Jago kancin dengan silapan
Jago rantai similan rauh
Gerak inggung pasak ngan empat
Lekat patah pantunnyo ado
Pantun kito dirumah guru
Salih kunin nyato batirai
Ngan banyato tirai tujuh
Tirai panjang jadi ka sungkun
Tirai pandak jadi ka suntin
Bunyi ado lang kalaut
Apo bilo ka langsung agi
Bunyi ado ayam tapaut
Apobilo di sabung agi
Dapat hari simalam ini
Jangan indu di bao balik
Jangan dendam di bao pulang
Mano indu mano diturut
Mano dendam mano di tempuh
Baru senang rasonyo ati
Sado itu dapat di sio
Agung guru aeh
Aeh guru kanti sijalan
Aeh tuan kanti sidirin
Belum jatuh ku sambutlah
Maih aman maih ku sambut
Kusambut munjari aluh
Kujawat dingan lidah mipih
Dapat ari simalam ini
Kito nak aseak mamintak
Mintak lamat pangaruh abu
Mintak lamat pangaruh umah
Sumber:
Hasil wawancara Siswa SMA Negeri I Sungai Penuh
