Tale Naik Haji berkembang di daerah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi yaitu setelah masuknya Islam di daerah ini. Tidak diketahui secara pasti dari mana dan siapa kesenian tale (bernyanyi dengan nada yang tinggi) ini bermula. Pada zaman dulu, masyarakat di daerah ini menunaikan ibadah haji menggunakan kendaraan yang sangat sederhana, yaitu menggunakan kuda/ bendi (Andong) dan menggunakan kapal laut menuju Mekah. Karena jarak dari daerah Kerinci ke Mekah sangatlah jauh, hingga perjalanan yang ditempuh memakan waktu lebih kurang tiga bulan.
Selain itu, jalan darat dari daerah Kerinci hingga penyebrangan, harus menempuh medan yang sanggat sulit, karena daerah ini dikelilingi oleh perbukitan.
Selain itu, jalan darat dari daerah Kerinci hingga penyebrangan, harus menempuh medan yang sanggat sulit, karena daerah ini dikelilingi oleh perbukitan.
Mengingat sulitnya perjalanan yang ditempuh oleh jama’ah haji yang berasal di daerah ini, maka keluarga dan kerabat yang ditinggalkan di daerah selalu mendo’akan agar keluarganya
selamat sampai tujuan. Sebelum berangkat ke tanah suci Mekah, calon jama’ah haji, di do’akan melalui tradisi talea, yang biasa disebut dengan Talea Naik Haji. Talea yaitu nyanyian yang berasal dari daerah Kerinci, yang berisikan pantun-pantun. Talea Naik Haji berisikan do’a- do’a dan pujian yang dipanjatkan kepada Allah SWT dengan menggunakan bahasa Kerinci berupa pantun-pantun. Pantun tersebut berisikan ungkapan kasih sayang, kesedihan dan harapan keluarga Jama’ah Haji agar dapat menjalankan rukun-rukun haji dengan baik.
selamat sampai tujuan. Sebelum berangkat ke tanah suci Mekah, calon jama’ah haji, di do’akan melalui tradisi talea, yang biasa disebut dengan Talea Naik Haji. Talea yaitu nyanyian yang berasal dari daerah Kerinci, yang berisikan pantun-pantun. Talea Naik Haji berisikan do’a- do’a dan pujian yang dipanjatkan kepada Allah SWT dengan menggunakan bahasa Kerinci berupa pantun-pantun. Pantun tersebut berisikan ungkapan kasih sayang, kesedihan dan harapan keluarga Jama’ah Haji agar dapat menjalankan rukun-rukun haji dengan baik.
Adapun tujuannya adalah agar anggota keluarga yang menunaikan ibadah haji, dilindungi dan dijauhi dari mala bahaya selama di perjalan. Pada zaman dahulu tradisi ini dilakukan sebelum jama’ah haji berangkat ke Mekah dan selama jama’ah haji di perjalanan yaitu selama lebih kurang tiga bulan. Sejak itulah tradisi Talea Naik Haji mulai berkembang, dan sampai saat ini tradisi ini masih berkembang, hampir di seluruh desa yang ada di Kerinci dan Sungai Penuh. Tetapi pada saat ini Talea Naik Haji hanya di dilakukan pada saat sebelum berangkat atau pelepasan keberangkatan Jama’ah haji. Talea Naik haji juga berfungsi sebagai hiburan dan juga berfungsi sebagai ritual, keberadaan tradisi ini tidak bisa dilepaskan dengan konteks sosial masyarakatnya.
Pewarisan talea keberangkatan haji dilakukan secara formal dan nonformal (alamiah). Secara formal ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci dalam bentuk memasukkan talea sebagai salah muatan lokal di sekolah-sekolah. Sedangkan, secara alamiah petale yang sudah tua berusaha mewarisi tradisi ini dengan memberi peluang kepada petale muda untuk ikut bertale, pada saat acara Talea Naik Haji dilakukan.
A. Fungsi
Tale Naik Haji memiliki fungsi yaitu:
a. Mendo’akan keselamatan orang yang akan melaksanakan haji.
b. Sebagai ungkapan rasa sedih melepas keberangkatan sanak saudara yang akan melaksanakan ibadah haji.
c. Sebagai ungkapan rasa kasih sayang sanak saudara yang akan melaksanakan ibadah haji.
d. Sebagai perantara perpisahan antara yang di tinggalkan dengan yang akan berangkat melaksanakan ibadah haji.
e. Menghibur tuan rumah yang akan di tinggalkan oleh orang yang melaksanakan ibadah haji.
B. Cara Penyajian
Talea di sajikan ,dengan berbalas pantun, biasanya dengan formasi berdiri dengan membentuk lingkaran. Gerakan yang digunakan sangat sederhana yaitu gerak kaki dan badan ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama dari anyunan syair talea yang di bawakan. Namun di beberapa daerah, seperti di desa Semurup, ada juga yang melakukan dengan formasi duduk berdekatan atau merapat. Jumlah anggota orang yang bertale tidak terbatas, biasanya lebih dari sepuluh orang, yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang berusia sekitar umur 35- 60 tahun. Pada saat penampilan, terdapat satu orang pemandu yang memulai awal setiap pantun yang dinyanyikan dan anggota lainnya mengikuti. Terdapat dua atau lebih kelompok yang saling berbalas pantun. Waktu bertale pada umumnya malam hari, yaitu dari jam 8 bisa sampai jam 12 atau jam 1 malam, tetapi ada juga yang melaksanakannya di pagi atau di siang hari, ini tergantung dari kesepakatan dengan tuan rumah.
Beberapa hari sebelum berangakat di adakanlah upacara Tale Naik Haji, acaranya ada pula beberapa tingkat yaitu :
1. Di Rumah Orang Yang akan Menunaikan Ibadah Haji.
Di sini berkumpulah keluarga, pada waktu malam ataupun siang. Mereka yang akan berangkat menunaikan Ibadah Haji berhadapan dengan keluarga yang ditinggalkan. Jika keluarganya banyak, maka posisi berdirinya dibuat bersyaf, kaum perempuan berada di depan dan kaun laki-laki di belakang. Mereka semua bertale sambil berbalas pantun. Pada saat bertale ada yang saling berangkulan dan ada juga yang menangis, karena disinilah tempat menggungkapkan perasaan kasih sayang dan kesedihan.
2. Di Rumah Orang Tua
Talea Naik Haji juga dilakukan di rumah orang tua yang akan menunaikan ibadah haji. Pantun-pantun yang dinyanyikan biasanya berupa nasehat-nasehat untuk orang yang akan menunaikan ibadah haji, serta memanjatkan doa atas keselamatan yang pergi dan yang tinggal.
3. Di Rumah Gedang (Rumah Tempat Penyimpanan Pusaka) atau Di Masjid
Sehari sebelum keberangkatan, orang yang akan menunaikan ibadah haji, di arak ke Masjid atau Rumah Gedang. Disana berkumpullah keluarga besar dan pemangku adat, untuk melakukan do’a bersama. Disini dilakukan serangkaian upacara adat, yang berisikan parno-parno adat. Talea Naik Haji juga dinyanyikan di sini. Pantun-pantun yang dinyanyikan berisikan tentang dunia dan akhirat, agar yang pergi merasa senang dan yang tinggal merasa lega. Hingga hari keberangkatanpun tiba, semua keluarga terharu dengan suasana perpisahan, dan begitu juga dengan pantun-pantun yang di sampaikan sangat menyedihkan.
C. Syair Lagu / Nyanyian
Syair talea berisikan tentang hal-hal yang dilaksanakan pada saat ibadah haji/ rukun haji, dan juga berisikan do’a untuk seseorang yang naik haji. Do’a atau pesan tersebut biasanya berisikan agar seseorang yang melaksanakan ibadah haji selamat sampai tanah suci dan selamat pula hingga pulang ke tanah air. Serta, berisikan ungkapan kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Menurut kebiasaan masyarakat setempat, sejak dahulunya hingga sekarang penyajian tale tidak menggunakan alat musik.
Contoh syair talea :
Dengan Bismillah mulo batale
Alhamdulillah mulo badu’a
Laillahaillallah kalemah tale
Sholawatkan nabi tidak boleh lupo
Nagerai yang tigo dilebihkan Allah
Pertamo mekkah kaduo madinah
Baitul Mugaddis tempat katigo
Hajjike baitullah rukun kalimo
Madinah itu tempat nabi pindah
Mesjid Nabawi tanab raudah
Makam nabi tempat jamaah sarah
Shalat arba’in karjokan berjama’ah
Rukun hajji wukuf di arafah
Sebelumnyo karjokan umroh
Berhenti malam di mudzdhalifah.
Berangkat kemina melempar jumroh
Baitulloh itu kiblat kito
Tujuh kali, jamaah tawaf
Hajrul aswad batu syurgo
Multazam itu do’a yang makbul
Babussalam pintu partamo
Jama’ah sae antaro safa marwa
Pakaian ihram rukun partamo
Air zam-zam minuman basamo
Iluk nia baladang minin
Tau pandang sedang babungo
Iluk nia bajalang minin
Tau badang masih mudo
Menampi padai karnoberampo
Berampo banyak beratah idak
Maksud hatai pegaibasamo
Niat ado perajo idak
Kalurah mencari dama
Dama dapat bunting tabuang
Kemekkah mencari ama
Ama dapat duso tabuang
Babiluk-biluk jalang baladang
Nampak renah muaro aye kincai
Iluk-iluk ngimpakan badang
Sanuk awak sanuk dihai
Parak siang mbam balabuh
Bulang bagantai dengan matuahai
Sanak suhang bajalang jauh
Kamai lepeh daengan hatai sucai
Urang lading balik kadusam
Tibo dusam ngarang bungo
Sanak mamak pgai nyalang karukam
Sudah rukam janga nduk lino
Mapan kito malareh pandang
Duhinyu jatuh kalama
Mapan kito baripan saying
Air mato jatuh balinang
Pio padai simubu inih
Idak buraye nyu masak jugo
Pio hatai saibo inih
Sanak nga suhang bajalang pulo
Pucuk maya iluk dirimpah
Tempat kito memibut ampo
Sedang saying kito bapisah
Hati sapo ngan idak ibo
Ayam kurik mailah kumo
Padai masak disawah tinggang
Idak baek pgai lamo
Sapu ngurauh sanak ngan tiinggang
Karteh sarang laying-layang
Iluk diblah dibagi duo
Kaman lpeh sanak bujalang
Cepat balik janga nduk lamo
Kembanglah kau sibungo gdang
Kembangnyo ditengah laman
Tingganglah kau rumah gdang
Tuang kau muncari ama
Kain kunan basula bungo
Salindang putih baju baragai
Jakan-jakan sanank bajalang
Bulatkan niat kuatkan hatai
Dusun baluai basimpang jalang
Mesjidnyu satau pangijannyu paman
Selamat pegai salamat bajalang
Ditempat na makbu du’akan Kaman
Serban putih jubah putih
Baju baragai kerudung kunan
Pintak bulih kahendak bulih
Balik kakincai atailah sna
Balaye kpa pgai kajudah
Barangkatnyu dari teluk bayur
Kaman badu’a kapada Allah
Supaya dapat haji mabrur
Kalu ado pule ngan patah
Ma diblah dibagi minin
Kalu ade tale ngan salah
Mohon maaf lahir dan batin
PANTUN NAIK HAJI
(Bahasa Semurup)
Sadu bento ngen runduk ini
Sipidin di tepi ai
Sado kito ngen duduk sini
Mintak izin kami butali
Bismillah mulai bara diri
Marilah kito mungerat tali
Padi di tebeh jerami lamo
Mai lah kito duduk butali
Tali pulepeh kaum keluargo
Alhamdullillah pado tahun ini
Gerak allah langkah lah tibo
Izin allah sudahlah nyato
Wahai tebo mai kami rimpah
Tebo sibatang kami rimpah jugo
Wahai ibu mai anak sembah
Serto pulo kaum keluargo
Wahai ibu danga anak ngato
Anak lah sudah mundapat baju
Baju jas buatan itali
Anak sudah mundapat seru
Seru allah sereto nab
Ibu di kampung munanam padi
Nak di tanam si padi payo
Lah mukabul niat di hati
Nak munjelang tanah mulio
Dusun lamo jalan kupendung
Nak munaki bukik kumantan
Lalamo niat tara kurung
Tahun ini maksud sampai
Ke padang muncari dama
Dapat dama di bukit tinggi
Ku mekah mencari amal
Dapat amal cepat kembali
Kalu kayo kebukit tinggi
Singgah burenti bukit pariaman
Kalulah sampai si tanah suci
Kabit kami nge sapu tapu nian tali ku ini
Ambik kain pungebat kayu
Sedih nian hati punakan ini
Mulapeh mamak bujelan jauh
Mumbo padi di pekan tinggat
Nak nyemo isuh ari
Ibo hati mamak barangkat
Punakan tinggat busedih hati
Bungo laman kerubang selamat
Bungo ru kembang melati
Anak mulapeh supayo selamat
Anak menunggu cepat kembali
Bukukuk ayam di lorong
Ayam di gedung pandak kaki
Serahkan untung ke pado allah
Baik untung bertemu lagi
Selusin membeli pinggan
Dusun barunyo di bilang
Apo piki anak nge tinggat
Hati mabuk bucampu riang
Dusun pendung,dusun ku mantan
Orang ulu pergi kemaro
Iluk untung sanak barajalan
Kayo munumpang kapal udaro
Malam ini munahan timun
Hari isuk munahan serai
Malam ini kito busamo
Hari isuk kito bupisah
Kusuruk pintu kuturun tango
Lah tibo ku tengah laman
Kukada langit bapak tara benyang
Ku kutung bumi ibu menanti
Fatiah di bago do’a ku tampung
Air mato turun bara derai
Kembanglah kau si bungo gedang
Kembang sereto si bungo jenti
Tinggalah sudah si rumah gedang
Tinggal serto anak nge cucung
Serto pulo kaum pemili
Langkah ku kaki ayun ku tangan
Jalan panjang nak kayo tempuh
Singgah buranti di mesjid raya
Sembahyang sunat 2 raka’at
Sesudah itu panitia sudah hadir
Memberi upacara jema’ah haji
Selesai lah sudah upacara jema’ah
Kaum pemili bara jabat tangan
Tinggailah sudah mesjid raya
Tingal serto kaum femili sungai penuh
Juma’ah burangkat kota sungai penuh
Terus munuju kantor bupati
Si situ banyak panitia menunggu
Memberi upacara cema’ah haji
Sesudah itu tukar pakaian
Sembahyang zohor 4 raka’at
Selamat tinggal kota sungai penuh
Serto pulo kaum keluarga
Selamat jalan bupisah kito
Jema’ah menuju kota padang
Singgah burenti di asrama haji
Di situ banyak panitia menanti
Memberi nasihat jema’ah haji
Tinggalah sudah si kota padang
Tinggal serto sanak pumili
Selamat jalan bupisah kito
Jema’ah menuju si kota
Bilo budengung kapal udaro
Nyo munyisip ambun nge putih
Di situ ingat tuhan dinge situ
Kalimah suci tetap kayo baco
Si lagi ayat di kandung badan
Jema’ah menuju asrama haji
Di situ banyak jema’ah menunggu
Serto pulo para pemimpin
Memberi upacara jema’ah haji
Selamat tinggal si kota jawa
Selamat jalan jema’ah haji
Jema’ah menuju si kota jedah
Nunggu kenderaan
Menuju madinah
Sesudah itu tukar pakaian
Jema’ah memakai pakain ihram
Terus sembahyang waktu
Serto pula sembahyang sunat 2 raka’at
10 hari 10 malam jema’ah di madinah
Sesudah itu terus kemekah
Ngerjokan ukuf,tawaf,dan syair
Sesudah itu jema’ah menuju ke arafah
Satu hari satu malam
Sesudah itu terus kemina
Berhenti di musdalifah
Mengambil batu untuk melontar
Jema’ah melontar jumroh yang 3
3 hari 3 malam kembali ke mekah
Di situ jema’ah bara potong rambut
Kota madinah tara lebih mulia
Sembahyang di situ 40 waktu
Subhannaulah kami tulung do’a
Dengan bismillah ngile ku ai
Uhang mungalah di rumput semak
mulai bismillah kami buati
Mengingat allah serta muhamad
Sado bento nge runduk ini
Si pidin di tepi ai
Sadu kito dinge duduk sini
Mintak izin kami butali
Mailh kito mungarat tali
Untuk pungebat si batang kayu
Mailah kito duduk butali
Kito munali jema’ah haji
Uli lah tudung si kali ini
Sampai lah nian membeli pinggan
Sanak buruntung si kali ini
Sampai niat pegi ku mekah
Orang lah pendung menbeli padi
Sudah di rago idak di beli
Di beruntung nian sanak kami ini
Tlah di kato idak bulih janji
Mako padi si rimbum ini
Skak dusuk dahan nya skah
Mako hati sirindu ini
Rasolah duduk di negeri mekah
Iluk masjid talang kemuning
Tiang bupasak tanggonyo tujuh
Iluk nasib sanak kami ini
Badan sihak bulanjo cukup
Iluk serempak kito mangku
Mungkin sirempak munggirang padi
Kalu sirempak kito beruntung
Mungkin sirempak kito pegi
Buluh mudo sudah di tebang
Bululah mano di ambik lagi
Untungnyo ibu sudah lah tingak
Untung nge mau ibu tunggu agi
Mumbo padi di swah tinggan
Mbuk nak nyamo ahi pungujat
Ibolah hati ibu nge tinggat
Mbuk nak samo di mano jalan
Pisang rajo jangan di tabang
Kalu di tabang jatuh duo
Wahai ibu jangan bara bilang
Kalu bara bilang hati anak ibo
Mako saya keladang kini
Munabang btung bu daun duo
Mako sayo ku mekh kini
Tau tubuh badan agi kuaso
Baju apu baju kami ini
Baju jubah pakaian haji
Seru apu seru kami ini
Seru allah serto nabi
Mako di bilang si manik sebah
Nak kami bilang seraruh soh
Mako kami jelang mekah medinah
Kami segan denga burito
Jangan di tarah semendang kuning
Kalu di tarah jadi kubaluk
Jangan di tahan pergi kini
Kalu di tahan munjadi ajuk
Kami idak muhahan padi
Bungo ru di tepi parit
Kami idak munahan agi
Karno deru nabi ibrahim
Kalu idak muncari damai
Iluk di bilang si bungo susun
Kalu idak muncari amal
Adak kami sampai ke tanah mekah
Tanahlah kapeh tanah lah bawang
Uhang di ladang buburu ruso
Nak kami lapeh hati kami sayang
Nak kami tahan takut di duso
Wahai tebu mai kami rimpah
Batang kayu aro kami rimpah jugo
Wahai ibu mai kami serubah
Sanak saudaro kami sembah jugo
Ini batang pinang di jalan
Bungo susun di kayu aro
Wahai lah ibu nga anak ngato
Sertoo pulo sanak saudaro
Ini pesan anak baru jalan
Anak cucung tolong di jago
Jangan kami jadi runano
Supayo kami dapat mulio
Hati induk sangatlah ibo
Pintu anak sudah terkunci
Pugilo maso induk busuo
Dengan anak bujalan jauh
Munaki bukik seredu
Kayu aro munanam pisang
Anak munangih tara sedu sedu
Karno kito nak bupisah
Putih nian kau si pandan
Sungguh putih ti rentai jugo
Kasih nian kayo ni nyantan
Sungguh kasih buripang jugo
Tebu idak pinang idak
Mano tempat munanam tilasih
Ibu idah bapah idak
Di mano tempat anak munumpang hati
Rimbun nian kayu di tungkai
Rimbun jugo kayu di jambi
Ibo hati anak nge tinggan
Ibo jugo hati ibu nge pegi
Meli kapeh iyo bukanti
Meli benang di toko lino
Pegi kami lapeh balik kami tuntik
Teraso senang jangan nak lino
Mumbo padi di pekan tinggak
Benih idak jiluang mudo
Ibo hati kami nge tinggak
Meh idak uang idak nyado
Iluk ujung kulapo kuning
Jatuh pulepeh duo duo
Iluk untung dusanak kami ini
Pegi ku mekah laki kuduo
Koto sirempak ku dusun pendung
Semak jalan ku bangkaulu
Kito si rempak muncari untung
Adik tinggan kakak lah dulu
Susun kumantan di tepi jalan
Menebeh di tebing tinggi
Anak jantan nak bujalan jauh
Nak di lepeh dengan hati suci
Pugilo hilang si jubah putih
Bintang di langit lah baru pulo
Pugiloh hilang dusanak kasih
Di mano tempat dusanak mangadu
Jago bungo di dalam ladang
Pucuk ruku lipat di lipat
Jangan nak lamo ditanah mekah
Sampai rukun balik cepat
Senang padi dibilik tinggan
Padi payo jadikan jemu
Senangkan hati anak nge tinggat
Ayah pegi idak ka lamo
Sudah lamo ili kubangko
Baru kini ku maro sakai
Sudah lamo hati tara buko
Baru kini mukasut sampai
Mungkin bukit kumantan
Tampak renan koti panyung
Mako hati tak dapat di tahan
Mekah madinah tara bayang-bayang
Nebang buluh di mudik dusun
Pucuk pauh tali butali
Baik lah menunggu dusun
Ibu jauh di tanah suci
Bukukuk ayam di lorong jalan
Ayam di geoung pandak kaki
Serahkan untung kepado allah
Baik inyo butemu agi
Selusin membeli pinggan
Dusun baru nyu di bilang
Apo piki sanak nge tinggan
Hati mabuk bucampu riang
Dusun pendung dusun kumantan
Orang hulu pergi kemuaro
Ilok untung sanak bejalan
Kayo menumpang kapal udaro
Jangan cemeh idak burenti
Beneh ado dalam buluh
Jangan cemeh idak buremeh
Meh ado tangan sipuluh
Bungo laman kembang selamat
Bungo ku kembang melati
Anak mulepeh supayo selamat
Anak menunggu cepat kembali
Kembang kau sibungo gedang
Kembang serta bungo cinano
Tinggallah kau si rumah gedang
Tinggallah serto kami keluarga
Iluk di karang kau kutubuh
Mak di baco si pagi hari
Kami bermohon kepada allah
Supaya sampai ke tanah suci
Nebang erik di mudik dusun
Tarik siruweh si buluh telang
Baik-baik anak menunggu dusun
Jangan anak dan cucu di benci orang
Jangan cemeh bungo di riang
Timun gagan bugagan dulu
Jangan cemeh adikku tinggan
Kakak bujalan nian idak nyado
Apo guno cermin
Cermin ado duo-duo
Apo nian salah kakak ini
Mako adikku nian idak nyado
Sungguh banyak kayu di rimbo
Kayuaro nan tigo batang
Sungguh banyak uhang ngan tibo
Adikku nian ngan idak nampak
Apo nian tali aku nian
Ambik kain pungebat kayu
Sedih nian hati punakan kayo
Melepeh mamak bujalan jauh
Mumbo padi di pekan tinggat
Nak nyemo isuk nyo ari
Ibo hati mamak burangkat
Punakan nge tinggat jangan busedih hati
D. Kostum yang Digunakan
Pada umumnya tidak ada kostum maupun aksesoris khusus yang digunakan saat melakukan talea ini. Kebanyakan kelompok-kelompok talea menggunakan baju kurung dan selendang pada saat melakukan talea. Pakaian orang-orang yang akan bertale biasanya jika ada sebuah regu maka akan memakai pakaian seragam yang telah disepakati, tetapi jika tidak ada regu tersendiri bisa memakai pakaian muslim yang sopan.
Sumber:
Hasil Penelitian Siswa SMA Negeri I Sungai Penuh Jambi: Naufal Maulika, Nurveni Hidayanti, dan Neka Handayani
Hasil Penelitian Siswa SMA Negeri I Sungai Penuh Jambi: Naufal Maulika, Nurveni Hidayanti, dan Neka Handayani
