Akhir-akhir ini sering saya mendengar, bahkan saya lihat dengan mata kepala saya sendiri hiruk pikuk suasana hiburan masyarakat, di pedesaan khususnya.Mulai dari Elektone, Dangdut, Pasar malem, atau sekedar ngopi-ngopi di trotoar.
Kincir angin, dermolem, tong edan, dan sederet hiburan lain selalu memenuh sesaki lapangan kecamatan atau desa setiap tahunnya di bulan Agusutus.
" Memang sudah menjadi tradisi masyarakat bangilan berbondong-bondong mendatangi lapangan ini setipa tahunnya, karena memang ini satu-satunya hiburan wong cilik yang gratis biaya masuknya" demikian kata Nur salah seorang pengunjung malam itu.
Haus hiburan, mungkin ini yang menjadi penyebab membludaknya penonton di lapangan ini. meski harus meninggalkan rumah untuk beberapa malam.
Bukan hanya orang tua dan anak-anak yang andil dalam memberi kontribusi untuk setiap penjual di lapangan pada waktu itu, tapi pemuda-pemuda sekitar yang sekedar hanya ingin mencari teman atau sekedar hiburan saja.
"Daripada di rumah suntuk, mending kesini mas. dah gratis banyak cewek-cewek lagi, ya meski hanya bisa lihat aja, hehehehe" demikian imbuhnya.
Tapi apakah hiburan-hiburan itu benar-benar menajdi hiburan bagi mereka yang datang, atau malah menjadi ajang cari musuh, atau balas dendam yang sering di realisasikan dengan istilah Tawuran?
