Antartika Dulunya Hijau Karena Pemanasan Global Purba

blogger templates
Minggu, 24 Juni 2012 - Sebuah studi yang dipimpin universitas dan partisipasi NASA menemukan kalau Antartika purba jauh lebih hangat dan basah daripada diduga sebelumnya. Iklimnya cocok untuk mendorong vegetasi yang berarti – termasuk pohon kerdil – disepanjang tepian benua yang beku.

Tim ilmuan yang terlibat dalam studi ini, yang diterbitkan tanggal 17 juni di Nature Geoscience, dipimpin oleh Sarah J. Feakins dari Universitas California Selatan di Los Angeles, dan mencakup para peneliti dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, dan  Louisiana State University di Baton Rouge.
Dengan memeriksa sisa-sisa lilin daun tanaman dalam sampel inti endapan yang diambil dari bawah Lempeng Es Ross, tim peneliti menemukan suhu musim panas pesisir Antartika 15 hingga 20 juta tahun lalu adalah 11 derajat Celsius lebih hangat dari sekarang, dengan suhu mencapai setinggi 7 derajat Celsius. Tingkat curah hujan juga ditemukan beberapa kali lebih tinggi dari sekarang.
 “Tujuan puncak studi ini adalah memahami dengan lebih baik masa depan perubahan iklim akan seperti apa,” kata Feakins, asisten professor ilmu bumi di   USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences. “Sama seperti sejarah punya banyak cara mengajarkan kita tentang masa depan, begitu juga iklim masa lalu. Rekaman ini menunjukkan bagaimana dampak penghangatan dan pembasahan di sekitar lempeng es Antartika terjadi ketika sistem iklim meninggi. Ini adalah salah satu bukti pertama seberapa hangat di sana dulu.”
 Para ilmuan mulai menduga kalau suhu lintang tinggi saat epoh Miosen tengah lebih hangat dari yang diyakini sebelumnya ketika peneliti Sophie Warny, asisten professor LSU, menemukan kuantitas besar serbuk sari dan ganggang dalam inti endapan yang diambil di sekitar Antartika. Fosil kehidupan tanaman di Antartika sulit diperoleh karena gerakan lempeng es raksasa ini menutupi massa tanah dan menghapus bukti.









“Inti endapan laut adalah ideal untuk mencari petunjuk vegetasi masa lalu, karena fosil terendapkan dan terlindungi dari kemajuan lempeng es, namun hal ini secara teknis sulit diperoleh di Antartika dan membutuhkan kerjasama internasional,” kata Warny.
 Selain sampel serbuk sari kecil, Feakins melihat juga sisa-sisa lilin daun yang diambil dari inti endapan untuk mendapat petunjuk. Lilin daun bertindak sebagai rekaman perubahan iklim dengan mendokumentasikan rasio isotop hydrogen dari air yang diambil tanaman saat ia hidup.
 “Inti es dapat mundur hingga satu juta tahun,” kata Feakins. “Inti endapan memungkinkan kita melihat lebih dalam lagi.”
 Berdasarkan sebuah model yang awalnya dikembangkan untuk menganalisis rasio isotop hydrogen dalam data uap air atmosfer dari pesawat Aura NASA, pengarang dan ilmuan JPL, Jung-Eun Lee, menciptakan eksperimen untuk mencari tahu seberapa hangat dan basahkah iklim di sana.
 “Ketika planet menghangat, perubahan terbesar terlihat di kutub,” kata Lee. “Gerakan ke selatan pita hujan berasosiasi dengan iklim lebih hangat di belahan selatan lintang tinggi membuat marjin Antartika tidak seperti kutub gurun, tapi lebih mirip Islandia di masa sekarang.”
 Puncak penghijauan Antartika ini terjadi pada periode Miosen tengah, antara 16,4 hingga 15,7 juta tahun lalu. Ini setelah masa dinosaurus, yang punah 64 juta tahun lalu. Pada epoh Miosen, sebagian besar hewan modern telah memenuhi Bumi, seperti kuda berkaki tiga, rusa, unta, dan berbagai spesies kera.Manusia modern belum muncul hingga 200 ribu tahun lalu.
 Kondisi hangat saat Miosen tengah diduga berasosiasi dengan tingkat karbon dioksida sekitar 400 hingga 600 bagian per juta (bpj). Tahun 2012, tingkat karbon dioksida telah mencapai 393 bpj, tertinggi dalam beberapa juta tahun. Pada laju peningkatan seperti sekarang, level karbon dioksida atmosfer akan setara dengan tingkat Miosen tengah pada akhir abad ini.
Tingginya tingkat karbon dioksida di epoh Miosen tengah telah didokumentasikan oleh studi lain lewat berbagai bukti, termasuk jumlah pori mikroskop di permukaan daun tanaman dan bukti geokimia dari tanah dan organisme laut. Sementara tidak satupun proksi ini sehandal gelembung gas yang terjebak dalam inti es, mereka adalah bukti terbaik yang tersedia sejauh ini. Sementara para ilmuan tidak tahu secara pasti mengapa karbon dioksida pada level ini terjadi di Miosen tengah, karbon dioksida tinggi, bersama dengan pemanasan global yang didokumentasikan di banyak bagian dunia dan sekarang juga dari daerah Antartika, tampaknya sejalan dengan periode ini dalam sejarah Bumi.
Penelitian ini didanai oleh   U.S. National Science Foundation dengan dukungan tambahan dari NASA.   California Institute of Technology di Pasadena mengatur JPL untuk NASA.
Sumber berita:






.