Musik Seruling Bambu merupakan salah satu musik tradisional yang terdapat di daerah Kerinci, yaitu di desa Siulak, Semurup, Koto Majidin, Tebat Ijuk, Kubang, Sekungkung dan beberapa desa lain yang terdapat di Kabupaten Kerinci. Sebagai salah satu musik tradisional, musik Seruling bambu tumbuh dan berkembang sebagai hasil karya seni budaya yang diwariskan secara turun temurun, oleh generasi kegenerasi oleh masyarakat pendukungnya. Kapan munculnya jenis musik ini, tidak dapat diketahui dan tidak ada yang mengetahui, termasuk penciptanya. Hal ini sama dengan kesenian tradisional lainnya sebagaian besar, tidak diketahui siapa penciptanya. Kesenian tersebut hanya tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat tersebut dan diwarisi ke generasi berikutnya.
Musik Seruling Bambu merupakan ekspresi jiwa manusia yang dituangkan dalam seni musik. Pada zaman dahulu sebagian besar masyarakat Kerinci mata pencariannya adalah petani. Keseharian mereka dihabiskan di ladang dan sawah, untuk menghilangkan rasa kejenuhan dan menghilangkan rasa letih bekerja, maka beberapa pemuda berinisiatif membuat seruling yang terbuat dari bambu. Seruling tersebut pada mulanya dimainkan oleh individu, untuk menemani diri saat sendirian. Lama kelamaan seruling banyak dimainkan oleh masyarakat , sehingga seruling bambu juga dimainkan secara bersama-sama di saat memanen padi di sawah. Meniup Seruling bambu bersama-sama akan menambah hangatnya pesta penen.
Alunan bunyi Seruling Bambu mengalunkan irama yang enak didengar. Permainan Seruling bambu secara bersama-sama tetap diperhankan, sampai masuknya penjajah ke daerah ini. Selanjutnya Seruling bambu berkembang dengan penambahan instrumen musik lainnya seperti Dram ( senar Drum), Tambur (Bass Drum). Seruling bambu digolongkan pada klasifikasi Aerophone yaitu satuan udara yang berada dalam alat musik itu sendiri sebagai penyebab bunyi. Dilihat dari bahan pembuatannya. Seruling Bambu terbuat dari bambu (buluh) talang, yang oleh masyarakat setempat menyebutnya Srik. Bambu ini mempunyai ruas yang panjang, ketebalan bambu ini sangat mendukung untuk membuat Seruling Bambu.
Seruling bambu ini terbagi atas dua ukuran, yaitu:
1. Seruling Bambu Pemimpin ( kapel)
Seruling ini berukuran kecil, panjangnya tidak selalu sama. Bisa saja Suling kapel dengan nada yang sama mempunyai panjang yang berbesa. Hal ini disebabkan karena ukuran lubang tiup dengan batang potong atau pinggir suling tidak mempunyai atauran baku. Hal ini tergantung dengan keinginan si pembuat.
2. Seruling Bambu Pengiring
Seruling ini lebih besar dari seruling kapel. Mengenai berapa ukuran seruling ini tidak ada ketentuan bakunya, yang perlu diperhatikan nada yang dihasilkan harus sesuai dengan nada suling kapel, atau dengan kata lain nada dasarnya harus sama.
Penyajian Musik Seruling Bambu
1. Di dalam rumah.
Penampilan di dalam rumah, biasanya dimainkan pad sudut ruangan di dalam rumah, dengan pertimbangan di bagian sisi yang lain akan dijadikan sebagai tempat penonton. Para pemain musik dalam memainkan alat musik dengan duduk bersila, dan di sesuaikan dengan tempat yang ada. Peniup Kapel ditempatkan pad bagian belakang instrumen yang lain. Kecendrungan meletakkan pemain kapel dibelakan adalah seruling kapel biasanya seruling yang paling menonjol suaranya atau terlalu tajam. Penyanyi berada pada bagian depan, karena memeng melodi lagu itulah akan diiringi oleh musik seruling bambu.
2. Di Pentas Luar Rumah
Pada zaman dahulu, walaupun di atas pentas yang telah dibuat, namun penampilan seruling bambu dilakukan dengan duduk bersila, tanpa menggunakan alat pengerat suara / sound. Lama kelamaan sesuai dengan perkembangan zaman Seruling bambu telah menggunakan alat pengeras suara dan memainkannya pun sambil berdiri di pentas. Aturan-aturan posisi pemainpun tidak ditentukan, karena disesuaikan dengan keinginan dan keserasian.
Kini Seruling Bambu di daerah Kerinci memiliki fungsi sebagai hiburan, yaitu saat acara adat seperti perkawinan, turun mandi bayi yang baru lahir, dan hajatan-hajatan lainnya. . Selain sebagai hiburan, Seruling bambu jungan merupakan sarana mengekspesikan emosional, sarana sosial, dan sarana kominikasi antar masyarakat setempat. Namun yang sangat memprihatinkan, musik Seruling Bambu lama kelamaan ditinggalkan oleh masyarakat setempat, karena banyaknya jenis musik-musik yang modern. Hal ini dibuktikan hanya beberapa desa yang masih memiliki group Seruling Bambu, padahal pada tahun sekitar tahun 1997-2002 hampir di setiap desa memiliki group Seruling Bambu. Kini hanya tinggal beberapa saja. Inilah yang sangat disayangkan, karena generasi muda saat ini merasa kurang tertarik dengan jenis musik ini. Mereka terlena dengan musik, pop, dangdut, dan rock, seperti yang mereka kenal saat ini. Padahal dengan mempelajari seni tradisional mereka dapat menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mereka dapat mewariskan budaya dari nenek moyang mereka dan yang sangat penting menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia.
