HIPOTESIS PENELITIAN

blogger templates
     I.     Bentuk-bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu: rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan), dan asosiatif (hubungan). Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian berdasarkan rumusan masalahnya,
yaitu:
1.      Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri. Rumusan hipotesis deskriptif pada pengamatan pendahuluan terhadap obyek yang diteliti. Hipotesis yang diajukan salah satu saja, dan hipotesis yang mana yang dipilih tergantung pada teori dan pengamatan pendahuluan yang dilakukan pada obyek.
2.      Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
3.      Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.


Sedangkan berdasarkan hubungan antara variabelnya, maka hipotesis dibagi menjadi :
1.      Hipotesis teoritis
Proposisi yang menetapkan hubungan antara variabel disebut hipotesis teoritis. Hipotesis ini diperoleh melalui operasionalisasi yaitu proses mengubah istilah-istilah abstrak (konsep-konsep) menjadi istilah-istilah empiris (variabel-variabel). Hipotesis teoritis merupakan proposisi yang paling rendah di dalam struktur teori dan merupakan hubungan antara proposisi tingkat tinggi dengan observasi. Hipotesis ini memungkinkan diadakannya pengujian teori.
2.      Hipotesis penguji
Hipotesis penguji berhubungan secara langsung dengan hipotesis kerja. Hipotesis kerja adalah suatu pendapat atau tanggapan mengenai langkah-langkah yang mungkin bermanfaat untuk dilakukan. Hipotesis kerja merumuskan suatu tanggapan mengenai arah penelitian, buka mengenai hasil penelitian. Hipotesis kerja merupakan pedoman kerja yang pada gilirannya menghasilkan tanggapan yang lebih tegas mengenai penyelesaian masalah yang diteliti. Tanggapan ini mungkin memberi jawaban yang tepat mengenai masalah ini yang disebut hipotesis penguji. Hipotesis penguji yang dideduksi dari teori disebut hipotesis teoritis.
3.      Hipotesis alternatif
Hipotesis alternatif ditetapkan pada penelitian ex post facto dan pada metode ekperimen disebut hipotesis ekeperimental. Hipotesis alternatif atau hipotesis ekperimental menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel. Hipotesis alternatif dibedakan atas hipotesis langsung (direksional) dan tidak langsung (non direksional). Hipotesis alternatif non. Hipotesis alternatif non direksional tidak menyatakan secara langsung hubungan antara variabel, jadi tidak menjelaskan bagaimana hubungan itu, tidak diketahui apakah hubungan itu sejalan (positif) atau bertentangan (negatif). Sebaliknya hipotesis alternatif direksional menyatakan secara eksplisit mengenai hubungan antara variabel, yaitu apakah sejalan (positif) atau bertentangan (negatif).
4.      Hipotesis nol
Hipotesis nol adalah kebalikan dari hipotesis alternatif. Hipotesis nol menyatakan tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.

  II.     Alasan Penyusunan Hipotesis
Menurut Ronald Ary (Arief Furchan, 1988 : 126 - terjemahan), hipotesis harus dibuat karena dua alasan :
1.  Hipotesis yang mempunyai dasar kuat menunjukkan bahwa peneliti telah mempunyai cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian dibidang itu.
2.    Hipotesis memberikan arah pada pengumpulan dan penafsiran data; hipotesis dapat menunjukkan kepada peneliti prosedur apa yang harus diikuti dan jenis data apa yang harus dikumpulkan.

III.     Fungsi/Kegunaan Hipotesis
Ary., dkk (1985:76,77) mengemukakan empat fungsi hipotesis, sebagai berikut :
1.   Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala (fenomena) serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai maslah pendidikan, orang harus melangkah lebih jauh daripada sekedar mengumpulkan fakta-fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antara hubungan yang ada di antara fakta-fakta itu. Hipotesis mengarahkan peneliti untuk mengumpulkan fakta dan data dan membuat generalisasi dalam pola-pola yang bermakna. Antar-hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting bagi pemahaman persoalan. Pola semacam ini tidak mungkin menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan dapat memberikan arah dan mengemukakan penjelasan-penjelasan. Karena hipotesis itu dapat diuji dan divalidasi (diuji kesahihannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat membantu kita memperluas pengetahuan.
2.      Hipotesis memberikan satu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian
Hipotesis tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai dengan suatu pertanyaan, tetapi hanya hubungan antara variabel-variabel sajalah yang dapat diuji.
3.      Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
Hipotesis merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan guna menguji pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta yang ada hubungannya denan pertanyaan tertentu. Hipotesis yang menentukan relevansi fakta-fakta itu. Hipotesis dapat memberikan dasar bagi pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus dipakai. Hipotesis juga dapat menunjukkan analisis statistik yang diperlukan dan hubungan yang harus menunjukkan analisis statistik yang diperukan agar ruang lingkup studi tersebut tetap terbatas, dengan mencegahnya menjadi terlalu sarat.
4.      Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan
Akan sangat memudahkan peneliti kalau ia mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis itu. Artinya, peneliti dapat menyusun bagian laporan tertulis ini di seputar jawaban-jawaban terhadap hipotesis semula, sehingga membuat penyajian itu lebih berarti dan mudah dibaca.

IV.     Landasan Penyusunan Hipotesis
Hipotesis berasal dari dua sumber utama yaitu (a) pengalaman, pengamatan dan dugaan peneliti sendiri, dan (b) hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan teori-teori yang sudah terbentuk. Sumber pertama berhubungan dengan hasil penemuan yang relevan dengan sumber-sumber acuan khusus (proses induksi), sedangkan sumber kedua berhubungan dengan teori-teori atau konsep-konsep tertentu yang relevan dengan sumber-sumber acuan umum (proses deduksi). Dengan demikian, hipotesis dapat diperoleh secara induktif dari pengamatan tingkah laku atau secara deduktif dari teori atau dari hasil-hasil penelitian sebelumnya.

  V.     Menguji Hipotesis
Untuk menguji suatu hipotesis, peneliti :
1.    Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar
2.     Memilih metode-metode penelitian yang memugkinkan pengamatan, eksperimentasi atau prosedur lain yang diperlukan menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak
3.      Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.

VI.     Karakteristik hipotesis yang baik
1.      Hipotesis menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel.
2.      Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
Suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya diterapkan. Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
3.      Hipotesis harus dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.
4.      Hipotesis hendaknya konsisten dengan penngetahuan yang sudah ada
Hipotesis hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan.
5.      Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana mungkin dan seringkas mungkin.

Tips untuk membantu peneliti pemula membentuk hipotesis
1.        Jangan takut salah (Don’t be afraid be wrong)
2.        Jangan takut untuk setuju mengembangkan  (Dont’ be afraid to deal with constructs)
3.        Jangan menentang teori (Don’t avoid theory)
4.        Jadilah manipulator; gunakan variabel tak-terikat (Be manipulative : use true independent variables)
5.        Lihat efek berikutnya: gunakan variabel terikat lainnya (Look for other effects :use other dependent variables)
6.     Tukar sebab dan akibat: tukat variabel terikat dan tak-terikat (Reverse cause and effects :switch independent and dependent variables)
7.        Cari varibel antara (look for mediating variables)
8.        Cari variabel moderator (Look for moderator variables)
9.     Lebih memahami hubungan antara dua variabel (Be more precise about the relationship between your variables)
10. Pelajari dimensi induvidual dari pembentuk multidimensional (Study individul dimensions of multidimensional constructs).

SUMBER

Arief Furchan, Drs. 1982. Pengantar Penelitian dalam pendidikan. CV. Usaha nasional: Indonesia (120-137)
Block, James, A., & Champion, Dean, J. 1976. Methods and Issues in Social Research. John Willye & Sons Inc. : New York
Creswell, John W. 2003. Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. University of Nebraska: Lincoin
Izaak Latunussa, Drs. 1988. Penelitian Pendidikan Suatu Pengantar. Depdikbud: Jakarta (h.41-47,49)
McMillan, James H. &  Schumacher, Sally. 2001. Research in Education, A Conceptual Introduction, Fifth Edition. Longman : New York
Mitchell, Mark, L., & Jolley, Janina, M. 2007. Research Design Explained, Sixth Edition. Thomson Wadsworth : Belmont, USA
Sugiyono, Prof. Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Penerbit Alfabeta : Bandung.
Thomas, Jerry R., EdD dan Jack K. Nelson, EdD. Research Methods in Physical Activity. Human Kinetics Books : Champaign, Illinois.







.