Apa itu Kecerdasan ?
Berdasarkan pengertian tradisional, kecerdasan meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini yang menjadi fokus di pendidikan formal seperti sekolah yang sesungguhnya mengarahkan seseorang untuk mencapai kesuksesan di bidang akademis. Selanjutnya, pandangan baru yang berkembang menyatakan ada kecerdasan lain di luar IQ, seperti bakat, ketajaman pengamatan sosial, hubungan sosial, kematangan emosional, dan lain-lain yang harus juga dikembangkan di dalam pendidikan formal. Kecerdasan yang selama ini diyakini para orang tua sebenarnya adalah kecerdasan Intelektual saja. Padahal, seorang anak dikatakan cerdas apabila anak tersebut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maksudnya anak mampu berinteraksi dengan orang lain, mampu mengendalikan suasana hati, dan mampu melihat dirinya sedang dalam kondisi yang ada.
Menurut ahli psikologi, kecerdasan merupakan konsep yang dapat diamati tetapi menjadi hal yang amat sulit untuk didefinisikan. Pada saat ini, banyak sekali konsep tentang kecerdasan, dan masing-masing ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda tentang kecerdasan. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa pandangan para ahli tentang hakekat kecerdasan itu (Safaria, 2005). Alfred Binet merupakan tokoh perintis pengukuran kecerdasan, menjelaskan kecerdasan merupakan:
1) Kemampuan mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, artinya individu mampu menetapkan tujuan untuk dicapainya (goal setting).
2) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila dituntut demikian, artinya individu mampu melakukan penyesuaian diri dalam lingkungan tertentu (adaptasi).
3) Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autokritik, artinya individu mampu melakukan perubahan atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya atau mampu mengevaluasi dirinya sendiri secara objektif.
Sedangkan David Wechsler memandang kecerdasan sebagai kumpulan atau totatitas kemampuan individu untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif (Wechsler dalam Safaria 2005). Walters dan Gardner pada tahun 1986 mendefinisikan kecerdasan sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu (Sternberg dan Frensch, 1990 dalam Saifuddin Azwar 1996). Menurut Safaria (2005) teori kecerdasan yang saat ini menjadi acuan dalam mengembangkan potensi anak adalah teori kecerdasan Gardner yang merumuskan teori kecerdasan majemuk yang biasa disebut multiple intelligence, yang pada dasarnya menolak pandangan psikometri dan kognitif tentang kecerdasan. Kecerdasan menurut Gardner adalah potensi biospsikologi. Kecerdasan berbeda dengan bidang pekerjaan dan bidang ilmu yang dikenal masyarakat seperti seni, pertanian, dan kedokteran. Kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk yang dibuat dalam satu atau beberapa budaya. Secara terperinci kecerdasan dapat di definisikan sebagai :
1) Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata.
2) Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan
3) Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
Setiap kecerdasan didasarkan pada potensi biologis kemudian diekspresikan sebagai hasil dari faktor-faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Secara umum, individu normal mampu menunjukkan beberapa kecerdasan. Kecerdasan tidak pernah dijumpai dalam bentuk murni. Sebaliknya kecerdasan tertanam dalam berbagai simbol, seperti bahasa, gambar, peta, notasi musik, simbol matematika (Gardner, 1993).
Pada dasarnya, orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai. Menurut Gardner, setiap orang sebenarnya mempunyai kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasannya hingga tingkat tertinggi, asalkan memperoleh dukungan, pengayaan, dan pembelajaran yang tepat atau pas (Armsrong, 1994). Ini berarti, seorang anak memperoleh dukungan positif dari orang tua, fasilitas yang menunjang, bimbingan yang intensif akan memiliki peluang untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasannya, seperti bermain musik, bercerita, melukis dan menari.
Ada berbagai cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori. Tidak ada seperangkat ciri standar yang harus dimiliki untuk disebut cerdas. Seseorang tetap disebut cerdas linguistik karena kemahirannya bercerita, meskipun seseorang tersebut tidak lancar membaca. Teori kecerdasan majemuk menekankan keberagaman cara orang menunjukkan bakat, baik dalam satu kecerdasan tertentu maupun antar kecerdasan.
